Dalam kehidupan sehari-hari, wajar bagi kita untuk
menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin akan menimpa kita
sendiri. Namun, seringkali kita juga dibuat lebih jengkel dengan hal-hal yang
tidak terduga. Bayangkan jika setiap hari kita pergi ke sekolah atau kantor
mengendarai sepeda motor. Biasanya perjalanan lancar tanpa hambatan. Akan
tetapi, pada suatu hari tiba-tiba motor kita mogok di tengah jalan. Tentu kejadian
ini akan membuat kita merasa lebih kecewa karena tidak kita duga sebelumnya. Sebaliknya,
bila kita sudah terbiasa dengan motor kita yang setiap harinya mogok dalam
perjalanan, ban sering bocor, atau bahkan ada kemacetan di jalan yang sering
kita lewati, maka kita pun akan memakluminya.
Musibah terasa lebih berat jika datang tanpa disangka, dan selalu terasa lebih menyakitkan. —Seneca (Moral Letters)
Untuk mengantisipasi berbagai hal tidak enak yang mungkin
terjadi, ada tips menarik dari pemikiran jaman dahulu. Premeditatio malorum
atau sengaja memikirkan apa saja yang akan merusak hari kita. Dengan begitu,
kita mengubah hal-hal dari yang tidak terduga (mengejutkan) menjadi hal-hal
yang terduga (tidak mengejutkan) sehingga bisa diantisipasi dampaknya. Ini
membuat rasa jengkel kita jauh berkurang.
Cara kerjanya sama seperti imunisasi. Kita memasukkan kuman yang
sudah dilemahkan ke dalam tubuh, sehingga system kekebalan kita bisa bersiap
melawan kuman yang sesungguhnya. Dengan memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi,
kita sedang mempersiapkan “kekebalan mental” untuk mengantisipasi jika memang
hal-hal tersebut benar-benar terjadi.
Dalam kehidupan sehari-hari, praktik premeditatio malorum
sangat berguna. Misal, kita membuat konten di youtube. Ketimbang memikirkan konten
kita akan dipuji banyak orang, views sampai satu juta, ataupun sampai jadi
trending nomor satu di dunia, alangkah lebih baik kita berpikir kemungkinan
terburuknya. Konten kita akan dikomen negatif oleh ribuan orang, views cuma
puluhan, bahkan sampai dihapus oleh pihak Youtube sendiri.
Bila kemungkinan-kemungkinan terburuk yang kita pikirkan
benar-benar terjadi, maka kita tidak akan merasa terlalu kecewa karena kita
sudah mengantisipasi hal itu sebelumnya. Namun, bila kemungkinan baiknya
menjadi kenyataan, kita malah mudah untuk bersyukur dan merasa jauh lebih
bahagia.
Ironis ya, berpikiran negatif justru membuat kita merasa lebih bahagia.
Selamat mempraktikkan!
*Catatan penting:
Berpikiran negative terus menerus memang dapat menimbulkan kecemasan dan berujung stress. Namun, tips ini dipraktikkan ketika keadaan kita sedang tenang. Pada dasarnya, kecemasan bersifat emosional, sedangkan premeditatio malorum datang dari nalar dan kepala dingin.





