Pernahkah kamu ragu saat mau melakukan sesuatu? Pernah kepikiran seperti "Kalau aku pilih ini, orang lain bakal ngatain gak ya?" ketika mau mengatakan suatu opinimu atau "Nanti kalau orang nganggep aku bodo gimana ya?"
Apa kata orang. Sadar atau tidak, kita sering
kali memilih dan melakukan sesuatu mengikuti opini orang lain, baik keputusan
kecil maupun besar. Memilih pekerjaan yang dianggap bergengsi, kuliah di tempat yang
diakui, atau bahkan hal sepele seperti warna baju apa yang cocok untuk dipakai hari ini.
- “Malu dong kalau kerja di perusahaan kecil, gajinya kecil, nanti diomongin orang malahan.”
- “Pokoknya harus Perguruan Tinggi Negeri, kalau masuk swasta nanti aku dianggap bodo, malu ah!”
- "Kalau aku pakai baju ini, kira-kira orang lain bakal ngomongin aku gak ya."
Adanya media sosial memperbesar efek dominasi
opini orang lain. Like, comment, followers bisa jadi hal utama yang lebih
dipikirkan daripada isi konten sendiri. Ketiga hal itu pun bisa dijadikan alat
untuk membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain yang mana dapat
berujung kepada sakit mental seperti kesepian dan depresi.
- “Kalau aku nge-post ini temen-temen bakal ngomen yang jelek gak ya?”
- “Followers ku lebih dikit daripada followersnya dia, huh sebel.”
- “Like di postingan ku kok dikit ya, apa temen-temen gak suka? Hapus aja deh.”
Padahal, opini orang adalah hal di luar kendali
kita. Mau kita berbuat atau bertutur kata sebaik apapun, masih saja ada yang
sempat mencela.
Fokus untuk memenuhi ekspektasi orang lain sama
saja dengan perbudakan, menjadi budak orang lain. Kok bisa? Ketika kita ingin terus
membuat orang lain senang, mendapatkan like sebanyak-banyaknya, memilih sesuatu
hal yang prinsip karena gak enakan sama orang lain, sebenarnya tanpa sadar kita
sudah menjadi budak dari opini orang lain. Pokoknya orang lain harus terpenuhi
ekspektasinya. Jika pilihan-pilihan pekerjaan, kampus, calon pasangan, politik,
baju, dan yang lainnya dipilih tanpa kebebasan, lalu apa bedanya kita dengan
budak?
Menyenangkan semua
orang adalah kemustahilan. Menggantungkan kebahagiaan pada hal di luar kendali
kita adalah kerapuhan yang disengaja. Namun, bukan
berarti kita tidak boleh mendengarkan pendapat orang lain. Saran, masukan, dan
nasihat serta kritik yang membangun alangkah lebih baik untuk diterima dan
dijadikan evaluasi untuk diri sendiri.
Jadi, mulai saat ini,
meski sedikit demi sedikit, mau kah kita memerdekakan diri dari dominasi opini
orang lain?


COMMENTS