"Setiap dari kita semua adalah luar biasa
(istimewa)"
Seringkali kita jumpai ungkapan semacam ini. Banyak media
dan orang-orang membicarakannya. Di seminar motivasi dan pengembangan diri, hal
seperti ini lumrah adanya. Sadar atau tidak, ungkapan semacam itu justru
kontradiktif. Jika semua orang luar biasa, artinya tidak ada satu orang pun
yang luar biasa. "Luar biasa"
akan menjadi hal yang biasa, karena semua orang menyandangnya.
Kita, sebagian besar, adalah orang yang biasa-biasa saja
pada hampir semua hal yang kita kerjakan. Meski kita istimewa di satu hal,
namun pada hal lainnya kita berada di tengah-tengah atau bahkan di bawah
rata-rata. Agar bisa menjadi istimewa pada suatu hal, kita harus mendedikasikan
waktu dan energi yang besar terhadapnya. Namun, kita semua memiliki waktu dan
energi yang terbatas. Bisa dikatakan kecil kemungkinannya setiap orang menjadi
istimewa dalam semua hal, atau bahkan pada banyak bidang.
Mempunyai akses ke internet maupun ratusan saluran televisi
memang mengagumkan. Kita dibanjiri berbagai informasi luar biasa. Terbaik dari
yang terbaik, terburuk dari yang terburuk. Hal-hal yang menonjol menjadi pusat
perhatian. Mereka yang ekstrem dan istimewa sering disorot dan diekspos di
media. Tumpukan-tumpukan informasi ekstrem yang hampir 24 jam nonstop ini
meyakinkan kita bahwa sesuatu yang istimewa adalah standar kenormalan.
Karena sebagian besar kehidupan kita berada pada level biasa-biasa
saja, luapan informasi yang memuat hal-hal istimewa ini membuat kita mudah
merasa rapuh dan putus asa. Jadi semakin lama, sebagian dari kita dapat mencari
penawar rasa rapuh melalui pengistimewaan diri. Ada 2 macam bentuknya.
1. Aku luar biasa dan kalian semua payah, jadi aku berhak
mendapatkan perlakuan istimewa.
2. Aku payah dan kalian semua luar biasa, jadi aku berhak
mendapatkan perlakuan istimewa.
Keduanya sama sama bersifat egois. Yang pertama menekankan
kesombongan. Yang kedua menampakkan kemalangan, seakan ia adalah orang paling
menderita di dunia sehingga harus mendapat perlakuan istimewa. Meyakinkan diri
sebagai orang yang berhak mendapat perlakuan istimewa sejatinya adalah solusi
yang gagal. Itu hanya akan membuat kita merasa tinggi (nge-fly), enak, dan lega
sementara. Tapi itu bukan kebahagiaan sejati.
Menjadi "biasa-biasa" saja dianggap sebagai
kegagalan. Banyak orang takut menerima diri mereka yang sedang-sedang saja karena
yakin itu artinya hidup mereka tidak akan memiliki arti. Namun, jika kita
berpikir kehidupan akan berharga hanya jika benar-benar penting dan besar, maka
pada dasarnya kita menerima fakta bahwa sebagian besar populasi manusia
(termasuk kamu) payah dan tidak berharga.
Orang orang yang unggul dalam suatu hal, menjadi hebat
karena merasa belum benar-benar luar biasa, sehingga mereka merasa bisa jadi
lebih baik dan terus memperbaiki diri. Menerima diri sendiri sebagai orang yang
biasa-biasa saja adalah obat. Tekanan dan kekhawatiran karena selalu merasa
tidak cukup dan terus menerus perlu membuktikan diri sendiri akan hilang.
Serta, kebebasan untuk menuntaskan apa yang ingin kita selesaikan, tanpa
ekspektasi dan penilaian yang muluk muluk, akan kita dapatkan.
Kita akan menjadi lebih menghargai hal-hal sederhana seperti
nikmatnya pertemanan tanpa drama, membantu seseorang yang membutuhkan,
menikmati segelas kopi hangat di sore hari, membaca buku-buku bagus, menonton
film yang menghibur, maupun tertawa ceria tanpa kepalsuan.
Terdengar membosankan ya? Mungkin karena hal-hal semacam itu
biasa-biasa saja. Namun mungkin juga karena itulah yang benar-benar berarti.
TAGS :


COMMENTS